Rabu, 30 Maret 2011

Dialog Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya

Sunan Kalijaga berkata “Namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”
Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “

Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “
Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong,
“Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”

Sabdo Palon Nayagenggong Ternyata Bukan Manusia atau jin Namun Hanya Sebuah Kitab

saya menambahkan mengenai Sabdo Palon Nayagenggong. Sabda : ucapan/berita/tulisan/ajaran. Palon : Semesta/alam/Dunia Macro cosmos dan Micro cosmos. Nayagenggong : untuk kesejahtearaan,kedamaian dan kesatuan.

saya tidak sependapat Sabdo Palon adalah seorang manusia, sabdopalon adalah sebuah kitab yang dibuat oleh Beliau yang berjulukan Beliau yang kesepuluh.
isi buku tersebut adalah mengupas semua kitab suci yang diturunkan Allah melalui Nabi. Jadi Kitab Sabdopalon adalah kitab tersirat dari segala kitab suci allah. jadi bukan seperti yang beredar sekarang.kita harus waspada terhadap pengadu domba/pemfitnah.

cerita mengenai dialog Prabu Brawijaya V dengan seseorang yang tidak mau masuk Islam adalah dimana Prabu Brawijaya V menerima putra mahkota Majapahit (pengganti Brawijaya V) dimana sang putra mahkota menolak mengganti ayahandanya Brawijaya V dengan alasan Putra mahkota tidak mau kerajaan yang beragama Hindu sebagai agama kerajaan diganti agama kerajaan menjadi agama Islam. sehingga Putra mahkota tersebut bergelar Raden Gugur dan beliau menjadi Pertapa di gunung Lawu .
Raden Gugur ketika meninggalkan Istana beliau bersabda bahwa agama islam diperkenankan menebarkan agama islam dengan catatan bila agama islam tersebut tidak menjadikan agama yang menjadikan umatnya,damai,sejahtera dan bersatu dan saling menghormati agama lain aku akan menagih janji kepada para ulama dan pemimpin bangsa nusantara.dengan aku memimpin rakyat kecil turun menuju kota besar untuk meminta keadilan,kesejahteraan,kedamaian. kemunculan aku dengan tandanya para sepuh akan turun gunung,gunung gunung meletus,bencana alam dan manusia dimana-mana.

Dengan kepergian Putra mahkota/raden gugur Prabu Brawijaya V menjadi gundah/bingung sehingga beliau mencari pendapat siapakah kelak pengganti dirinya,intrik istanapun berkerja.beliau mendapat berita bahwa Raden Patah sedang memimpin penyerbuan ke Madjapahit. sehingga Prabu Brawijaya pergi meninggalkan Istana menuju ke Blambangan untuk minta bantuan dari kerajaan dari Bali. sementara kedatangan raden rahmat adalah utusan raden patah yang akan menghadap Ayahnya Prabu Brawijaya tetapi dijalan dihadang oleh kelompok yang ingin merebut kekuasaan kerajaan. sehingga raden patah mendapat berita bahwa ayahnya sedang mendapat tekanan/kudeta sehingga mengirim pasukan untuk membebaskan ayahnya,sementara Prabu Brawijaya V mendapat berita bahwa anaknya akan menyerbu Kerajaan Madjapahit.
Dalam pelarian Prabu Brawijaya, Raden Said(Sunan Kalijaga) menyusul Prabu BrawijayaV. terjadilah pertemuan di Blambangan, dimana Raden Said menghentikan niat Prabu Brawijaya V meminta bantuan dari kerajaan di Bali.
dimana dialog tersebut.tersebut Raden Said mengatakan kepada Prabu Brawijaya V. bahwa yang datang ke Madjapahit adalah Putra beliau sendiri yang bernama Raden Patah. dan raden patah tidak bermaksud menguasai kerajaan tetapi ingin membebaskan Prabu dari tangan pemberontak. setelah Prabu Brawijaya V mendengar penjelasan dai Raden Said. maka beliau tidak jadi menyeberang ke Bali dan ingin kembali ke Madjapahit. kemudian Prabu Brawijaya minta pendapat kepada Raden said. siapakah yang berhak menjadi pengganti Prabu Brawijaya V, oleh Raden Said diusulkan Raden Patah(anak Prabu Brawijaya v dengan Putri Cina) kemudian disetujui oleh Prabu Brawijaya V.Raden Said(Sunan Kalijaga) kemudian meminta kesediaan untuk Prabu Brawijaya V Masuk agama islam untuk membuktikan pengakuan Raja telah menyetujui Raden Patah menjadi pengganti Prabu Brawijaya V dan agama kerajaan Madjapahit menjadi agama Islam. Prabu Brawijaya V menyetujui kemudian Raden Said men Baiat Prabu dengan 2 kalimat syahadat. Prabu Brawijaya V meminta kepada Raden Said khusus untuk Membaca 2 Kalimat Syahadat, Prabu Brawijaya V mau melakukan tetapi tanpa asyhadu(saya bersaksi).dimana intinya Prabu Brawijaya V tidak berani dan sanggup yang disebabkan faktor usia dan ketidak sanggupan Prabu Brawijaya melaksanakannya. dimana kata asyhadu(bersaksi kepada tuhan) adalah sangat berat , terjadilah dialog yang sangat panjang. yang diakhiri oleh suatu percakapan dimana Prabu Brawijaya V mengatakan kepada Raden Said(Sunan Kalijaga)bila beliau salah dalam mengucapkan 2 kalimat syahadat tanpa asyhadu maka air danau tempat saya mengucap menjadi bukti besok bila wangi maka permohonan saya dikabulkan oleh Allah SWT. dan bila besok air danau ini bau anyir maka saya mengulangi membaca 2 kalimat syahadat dengan asyhadu. ternyata keesokan harinya air danau terebut berbau wangi “Kuasa Allah amat mulia dan meliputi semuanya” dan sekarang disebut kota Banyuwangi.
dalam perjalanan pulang Sunan Kalijaga mengiringi Prabu Brawijaya V dan tiada hentinya Sunan Kalijaga dan Prabu Brawijaya V membicarakan agama Islam.sesampai kembali di Kerajaan Madjapahit Prabu Brawijaya menanyakan kepada Sunan Kalijaga tentang keberadaan Raden Patah rupanya Takdir berkata lain Raden Patah ketika ditanyakan keberadannya oleh Prabu Brawijaya V berhalangan/bersimpangan jalandan ketika terakhir kali ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V kepada Raden Said duduk disebelah Raden Said seorang pemuda yang ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V siapakah dia dan Raden Said menjawab ia adalah Bondan Kejawen putra Prabu juga. sehingga Prabu mengucapkan kepada Raden Said bahwa Raden Patah akan memimpin Kerajaan Islam pertama di nusantara dan kerajaan tersebut hanya satu periode(Demak) dan sebagai penerus kerajaan nusantara adalah keturunanku yang lain dari Bondan Kejawan.
Karena Usia Prabu Brawijaya V sudah Lanjut dan beliau wafat tidak dapat bertemu juga dengan Raden Patah.dan pesan Prabu Brawijaya V makam ku dinamakan “Makam Putri Cempa”

Sangatlah sayang Sadopalon yang merupakan kitab diplesetkan jadi orang dan dibuat sarana untuk mengadu domba. maka kita jangan terjebak oleh kitab2 apalagi jaman penjajahan belanda buku2 tersebut diambil dan dikembalikan dengan sudah dirubah. seperti fakta yang ada dan sangat disayangkan Candi Borobudur pada Tingkat pertama dan kedua oleh belanda dikubur/ditanam agar kita generasi penerus tidak dapat mengetahui.(Tingkat pertama dan kedua terdapat relief kehidupan manusia, dimana manusia berbuat apa yang terjadi dalam kehidupannya)jadi saya untuk mempelajari buku 2 kuno, saya berpegangan kepada budaya adi luhur pendahulu dan bila tidak cocok saya mencoba untuk mengartikan apa yang hendak dipesan lewat tulisan itu apakah simbol atau bikinan Belanda atau anteknya. sehingga kita selalu terbawa arus adu domba dan pembodohan terus.

Bersumber dari : Komentar Firman Hanny Juni 14th, 2009 at 16:35 di Wahyu Sasmita
( Sabdo Palon Naya Genggong )
http://databrita.blogdetik.com/2009/06/08/sabdo-palon-naya-genggong/comment-page-1/

15 komentar:

nunul mengatakan...

subhanalla, sebuah pengetahuan awal-awal islam masuk nusantara

nunul mengatakan...

jaman sekarang kalau dita tidak berhati hati dalam menerima dan mengolah informasi maka kaita tentu akan terjebak dalam permainan [politik yang dimainkan oleh dorna-dorna negara pada saat ini. sebuah wawasan yang tentunya akan menjadi pengetahuan yang maha dahsyat daloam nengngkap sejarah indonesia yang sebenarnya.

agus riyanto mengatakan...

Alhamdulillah.akhirnya aku temukan suatu analisa murni yang secara batin dan logika sangat masuk akal dan memang itulah yang terjadi. serat darmagandul terlalu banyak modifikasinya silahkan baca berulang2 niscaya akan ditemukan keganjilannya. contoh(ketika sabda palon mengancam,bukankah disitu ada sunan kalijaga apa mungkin sunan kalijaga membiarkan ancaman itu, selain empat orang yang ada yang katanya moksa(sabda palon,naya genggong,dan prabu bv) lalu siapa yang menuliskan pembicaraan itu. ganjil. terima kasih sobat atas analisisnya tolong disebar analisis ini agar semakin terbuka fakta sejarah yang sebenarnya.

Unknown mengatakan...

saya suka ini. maturnuwun sanget. ;)

rakhmat wardoyo mengatakan...

alhamdulillah akhirnya saya tau kbenaran nya. mudah2an tidak ada yang mengadu domba dan memelesetkan cerita sebenarnya.

desi vitri mengatakan...

bodoh lo...lo plesetin sejarah

Agung Budi mengatakan...

Sunan Kalijaga berkata, “Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namannya”.
Sang Prabu berkata, "Syahadat itu seperti apa, aku kok belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan".
Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammaddar Rasulullah, artinya aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah".
Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, "Manusia yang menyembah kepada angan-angan saja tapi tidak tahu sifatNya maka ia tetap kafir, dan manusia yang menyembah kepada sesuatu yang kelihatan oleh mata, itu menyembah berhala namanya, maka manusia itu perlu mengerti secara lahir dan batin. Manusia mengucap itu harus paham kepada yang diucapkan.

Adapun maksud Nabi Muhammad Rasulullah adalah Muhammad itu makam kuburan. Jadi badan manusia itu tempatnya sekalian rasa yang memuji badan sendiri, tidak memuji Muhammad di Arab. Badan manusia itu bayangan Dzat Tuhan. Badan jasmani manusia adalah letak rasa.
Rasul adalah rasa kang nusuli. Rasa termasuk lisan, rasul naik ke surga, lullah, luluh menjadi lembut. Disebut Rasulullah itu rasa ala ganda salah. Diringkas menjadi Muhammad Rasulullah.
Yang pertama pengetahuan badan, kedua tahu makanan. Kewajiban manusia menghayati rasa, rasa dan makanan menjadi sebutan Muhammad Rasulullah, maka sembahyang berbunyi ushali itu artinya memahami asalnya. Adapun raga manusia itu asalnya dari ruh idhafi, ruh Muhammad Rasul, artinya Rasul rasa, keluarnya rasa hidup, keluar dari badan yang terbuka, karena asyhadu alla, jika tidak mengetahui artinya syahadat, tidak tahu rukun Islam maka tidak akan mengerti awal kejadian.

Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah agama Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.

Agung Budi mengatakan...

1. Restu Nyai Ageng Ampel
Tersebutlah Sultan Demak yang akan memohon doa restu kepada para sesepuhnya. Sesudah tiga hari, Sultan Demak berangkat ke Ampel. Adapun yang ditugaskan menunggu di Majapahit adalah Patih Mangkurat serta Adipati Terung. Mereka diperintahkan untuk menjaga keamanan keadaan dan segala kemungkinan yang terjadi. Sunan Kudus menjaga di Demak menjadi wakil Sang Prabu. Di Kabupaten Terung juga dijaga ulama tiga ratus, setiap malam mereka shalat hajat serta tadarus Al Qur’an.
Sebagian pasukan dan Sunan ikut Sang Prabu ke Ampelgading. Sunan Ampel sudah wafat hanya tinggal istrinya. Istri beliau asli dari Tuban, putra Arya Teja. Setelah wafatnya Sunan Ampel, Nyai Ageng menjadi sesepuh orang Ampel. Sang Prabu Jimbuningrat sesampainya di Ampel, kemudian menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Prabu Jimbuningrat berkata bahwa dirinya baru saja menyerbu Majapahit, dan melaporkan hilangnya ayahanda serta Raden Gugur. Ia juga melaporkan kematian Patih Majapahit dan berkata bahwa dirinya sudah menjadi raja seluruh tanah Jawa bergelar Senapati Jimbun. Beliau meminta restu agar langgeng bertahta dan anak keturunannya nanti jangan ada yang memotong. Nyai Ageng Ampel mendengar perkataan Prabu Jimbun, menangis seraya merangkul Sang Prabu. Hati Nyai Ampel tersayat-sayat perih. Demikian ia berkata, “Cucuku, kamu dosa tiga hal. Melawan raja dan orang tuamu, serta yang memberi kedudukan sebagai bupati. Mengapa kamu tega merusak tanpa kesalahan. Apa tidak ingat kebaikan Uwa Prabu Brawijaya? Para ulama diberi kedudukan dan sudah membuahkan rizki sebagai sumber makannya, serta diberi kemudahan dan dibebaskan menyebarkan agama? Seharusnya kamu sangat berterima kasih, tapi akhirnya malah kamu balas kejahatan, kini hidupnya beliaupun tidak ada yang tahu”.
Nyai Ageng kemudian menanyai Sang Prabu, katanya, “Angger, aku akan bertanya kepada kamu, jawablah sebenarnya, ayahandamu yang benar itu siapa? Siapa yang mengangkat kamu menjadi raja di tanah Jawa, dan siapa yang mengijinkan kamu? Apa sebabnya kamu menganiaya orang tanpa dosa?” Raden Patah kemudian menjawab, bahwa Prabu Brawijaya adalah benar-benar ayahandanya. Yang mengangkat dirinya menjadi Raja memangku tanah Jawa adalah semua Bupati pesisir, dan yang mengizinkan adalah para Sunan. Mengapa negara Majapahit dirusak, karena Sang Prabu Brawijaya tidak berkenan masuk agama Islam, masih mempercayai agama kafir, Buda kawak dawuk seperti kuwuk.

Agung Budi mengatakan...

Nyai Ageng mendengar jawaban Prabu Jimbun, kemudian menjerit seraya merangkul Sang Prabu dengan berkata, “Angger! Ketahuilah, kamu itu dosa tiga hal, mestinya kamu itu dikutuk oleh Gusti Allah. Kamu berani melawan Raja lagi pula orang tuamu sendiri, serta orang yang memberi anugerah kepada kamu. Kamu berani-beraninya menganggu orang tanpa dosa. Adanya Islam dan kafir siapa yang menentukan, selain hanya Gusti Allah sendiri. Orang beragama itu tidak boleh dipaksa, harus keluar dari keinginannya sendiri. Orang yang kukuh memegang agamanya sampai mati itu utama. Apabila Gusti Allah mengizinkan, tidak usah disuruh, sudah pasti dengan sendirinya memeluk agama Islam. Gusti Allah bersifat rahman, tidak memerintahkan dan menghalangi kepada orang beragama. Semua ini atas kehendaknya sendiri-sendiri.
Gusti Allah tidak menyiksa orang kafir yang tidak bersalah, serta tidak memberi ganjaran kepada orang Islam yang bertindak tidak benar, hanya benar dan salah yang diadili dengan keadilan. Ingat-ingatlah asal-asalmu, ibumu Putri Cina menyembah Pikkong, berwujud kertas atau patung batu. Kamu tidak boleh benci kepada orang yang beragama Buda. Matamu itu berkacalah, agar tidak blero penglihatanmu, tidak tahu yang benar dan yang salah. Katanya anaknya Sang Prabu, kok tega menelan ayahanda sendiri. Bisa-bisanya sampai hati merusak tanpa tata krama. Berbeda matanya orang Jawa. Orang Jawa matanya hanya satu, maka ia menjadi tahu benar dan salah, tahu yang baik dan yang buruk, pasti hormat kepada ayah, kedua kepada raja yang memberi anugrah, ia wajib dijunjung tinggi. Ikhlasnya hati bakti kepada ayah, tidak berbakti kepada orang kafir, karena sudah kewajiban manusia berbakti kepada orang tuanya. Kamu aku dongengi, Wong Agung Kuparman, itu beragama Islam, punya mertua kafir, mertuanya benci kepada Wong Agung karena lain agama, mertuanya selalu mencari cara agar menantunya mati. Tetapi Wong Agung selalu hormat dan sangat kasih serta menjunjung tinggi kedua orang tuanya. Ia tidak memandang orang tua dari segi kekafirannya, tapi posisinya sebagai orang tuanya. Maka Wong Agung selalu menjunjung hormat kepada mertuanya itu. Itulah Angger yang dinamakan orang berbudi baik. Tidak seperti tekadmu, ayahanda disia-siakan, mentang-mentang kafir Buda tidak mau berganti agama. Itu bukan patokan. Aku akan bertanya sekarang, apakah kamu sudah memohon kepada orang tuamu, agar beliau pindah agama? Mengapa negaranya sampai kamu rusak itu bagaimana?
Prabu Jimbun berkata, bahwa ia belum memohon pindah agama, sesampainya di Majapahit langsung saja mengepung. Nyai Ageng Ampel tersenyum sinis dan berkata, “Tindakanmu itu makin salah. Para Nabi jaman kuna, ia berani kepada orang tuanya itu karena setiap hari sudah mengajak berpindah agama, bahkan sudah ditunjukkan mu’jizat kepadanya, tetapi tidak berkenan. Karena setiap hari sudah dimohon agar memeluk agama Islam, tetapi ajakannya tadi tidak dipikirkan, masih melestarikan agama lama, maka kemudian dimusuhi. Jika demikian caranya, meskipun melawan orang tua, lahir batin tidak salah. Tapi orang seperti kamu? Mu’jizatmu apa? Apabila benar Khalifatullah berwenang mengganti agama, coba keluarkan apa mu’jizatmu, aku lihat?”

Agung Budi mengatakan...

Prabu Jimbun mengakui bahwa ia tidak memiliki mu’jizat apa-apa, hanya menurut perkataan buku, katanya apabila mengIslamkan orang kafir besok akan mendapat ganjaran surga. Nyai Ageng Ampel tersenyum tetapi tambah amarahnya. “Kata-kata saja kok dipercayai, pun bukan buku dari leluhur. Orang mengembara kok diturut perkataannya, yang mendapat celaka ya kamu sendiri. Itu pertanda ternyata masih mentah pengetahuanmu. Berani kepada orang tua, karena keinginanmu menjadi raja, kesusahannya tidak dipikir. Kamu itu bukan santri yang tahu sopan santun, hanya mengandalkan sorban putih, tetapi putihnya kuntul, yang putih hanya di luar, di dalam merah. Ketika kakekmu masih hidup, kamu pernah berkata bila akan merusak Majapahit, kakekmu melarang. Malah berpesan dengan sungguh-sungguh jangan sampai memusuhi orang tua. Sekarang kakekmu sudah wafat, wasiatnya kamu langgar. Kamu tidak takut akibatnya. Kini kamu meminta izin kepadaku, untuk menjadi raja di tanah Jawa, aku tidak berwenang mengizinkan, aku rakyat kecil dan hanya perempuan, nanti buwana balik namanya. Karena kamu semestinya yang memberi izin kepadaku, karena kamu Khalifatullah di tanah Jawa, hanya kamu sendiri yang tahu, seluruh kata-katamu lidah api. Aku sudah tuwa tiwas, sedang kamu nanti tua, akan tetap menjadi tuanya seorang raja”.
Nyai Ageng Ampel berkata lagi, ”Cucu! Kamu aku dongengi sebuah kisah, dalam Kitab Hikayat diceritakan di tanah Mesir, Kanjeng Nabi Dawud, putranya menginginkan tahta ayahandanya. Nabi Dawud sampai mengungsi dari negara, putranya kemudian menggantikannya menjadi raja. Tidak lama kemudian bisa kembali merebut negaranya. Putranya naik kuda melarikan diri ke hutan, kudanya lepas tersangkut pepohonan, sampai ia tersangkut tergantung di pohon. Itulah yang dinamakan hukum Allah.
Ada lagi cerita Sang Prabu Dewata Cengkar, ia memburu tahta ayahandanya, tetapi kemudian dikutuk oleh ayahandanya kemudian menjadi raksasa, setiap hari makan manusia. Tidak lama kemudian, ada Brahmana dari tanah seberang datang ke tanah Jawa bernama Aji Saka. Aji Saka memamerkan ilmu sulap di tanah Jawa. Orang Jawa banyak yang cinta kepada Aji Saka, dan benci kepada Dewata Cengkar. Aji Saka diangkat menjadi raja, Dewata Cengkar diperangi sampai terbirit-birit, tercebur ke laut dan berubah menjadi buaya, tidak lama kemudian mati. Ada lagi cerita di Negara Lokapala juga demikian, Sang Prabu Danaraja berani kepada ayahandanya, hukumnya masih seperti yang aku ceritakan tadi, semua menemui sengsara. Apalagi seperti kamu, memusuhi ayahanda yang tanpa susila, kamu pasti celaka, matimu pasti masuk neraka, yang demikian itu hukum Allah”. Sang Prabu Jimbun mendengar kemarahan eyang putrinya menjadi sangat menyesal di hati, tetapi semua sudah terjadi.
Nyai Ageng Ampel masih meneruskan gejolak amarahnya, ”Kamu itu dijerumuskan oleh para ulama dan para Bupati. Tapi kamu kok mau menjalani, yang mendapat celaka hanya kamu sendiri, lagi pula kehilangan ayah, selama hidup namamu buruk, bisa menang perang tetapi musuh orang tua raja. Karena itu bertaubatlah kepada Yang Maha Kuasa, kiraku tidak bakal memperoleh ampunan. Pertama memusuhi ayah sendiri, kedua membelot kepada Raja, ketiga merusak kebaikan dan merusak negara tanpa tahu adat. Adipati Ponorogo dan Adipati Pengging pasti tidak akan terima rusaknya Majapahit, pasti akan membela kepada ayahnya, itu saja sudah berat tanggunganmu”.
Nyai Ageng tumpah ruah meluapkan amarahnya kepada Prabu Jimbun. Setelah itu, Sang Prabu diperintahkan kembali ke Demak, serta diperintahkan agar mencari hilangnya ayahandanya. Apabila sudah bertemu dimohon pulang ke Majapahit, dan ajaklah mampir ke Ampelgading. Akan tetapi apabila tidak berkenan, jangan dipaksa, karena jika sampai marah maka ia akan mengutuk, kutukannya pasti makbul.

Agung Budi mengatakan...

Setelah Prabu Jimbun tiba di Demak, para pengikutnya menyambutnya dengan gembira dan berpesta ria. Para santri bermain rebana dan berdzikir, mengucap syukur dan sangat gembira atas kemenangan mereka dan kepulangan Sang Prabu Jimbun atau Raden Patah. Sunan Bonang menyambut kepulangan Sang Prabu Jimbun. Sang raja kemudian melaporkan kepada Sunan Bonang bahwa Majapahit telah jatuh, buku-buku agama Buda sudah dibakari semua, serta melaporkan kalau ayahandanya dan Raden Gugur lolos. Patih Majapahit tewa di tengah peperangan, Putri Cempa sudah diajak mengungsi ke Bonang. Pasukan Majapahit yang sudah takhluk kemudian disuruh masuk Islam. Sunan Bonang mendengar laporan Sang Prabu Jimbun, tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia mengatakan peristiwa itu cocok dengan perkiraan batinnya.
Sang Prabu melaporkan bahwa ia telah mampir ke Ampeldenta untuk menghadap Eyang Nyai Ageng Ampel. Kepada Eyang Nyai Ageng Ampel ia mengatakan kalau baru saja dari Majapahit, serta memohon izin bertahta menjadi raja tanah Jawa. Akan tetapi di Ampel ia malah dimarahi serta diumpat-umpat. Ia dikatakan tidak tahu membalas kebaikan Sang Prabu Brawijaya. Akhirnya ia diperintahkan supaya mencari dan mohon ampun kepada ayahandanya. Semua kemarahan Nyai Ageng Ampel dilaporkan kepada Sunan Bonang.
Mendengar hal itu Sunan Bonang dalam batin menyesal dan merasa bersalah karena khilaf akan kebaikan Prabu Brawijaya. Tapi rasa yang demikian tadi ditutupi dengan berpura-pura menyalahkan Prabu Brawijaya lan Patih, karena tidak mau pindah agama Islam. Sunan Bonang mengatakan agar perintah Nyai Ageng Ampel tidak perlu dipikirkan benar, karena pertimbangan wanita itu pasti kurang sempurna, lebih baik penghancuran Majapahit dilanjutkan. Jika Prabu Jimbun menuruti perintah Nyai Ampeldenta, Sunan Bonang lebih baik akan pulang ke Arab. Akhirnya Prabu Jimbun berjanji kepada Sunan Bonang, untuk tidak menjalani perintah Nyai Ampel.
Sunan Bonang memerintahkan kepada Sang Prabu, jika ayahandanya memaksa pulang ke Majapahit, Sang Prabu diperintahkan menghadap dan meminta ampun akan semua kesalahannya. Akakn tetapi bila beliau ingin bertahta lagi, jangan di tanah Jawa, karena pasti akan mengganggu orang yang pindah agama Islam. Ia disuruh bertahta di negara lain di luar tanah Jawa.
Sunan Giri kemudian menyambung, agar tidak mengganggu pengislaman Jawa, Prabu Brawijaya dan putranya lebih baik ditenung saja. Karena membunuh orang kafir itu tidak ada dosanya. Suna Bonang serta Prabu Jimbun sudah mengamini pendapat Sunan Giri yang demikian tadi.

Agung Budi mengatakan...

Kisah Pangeran Tembayat dan Syekh Domba saat diutus menemui Siti Jenar di Krendhasawa
“Selain itu saya menerima pesan dari Sunan Kalijaga. Untuk menyampaikan sasmita ghaib, berupa empat pertanyaan yang harus kamu jawab dengan jelas. Yang pertama, ketika Gusti Allah menciptakan alam semesta, perkakas serta bahan seperti apa yang digunakan? Kedua, di manakah rumah Gusti Allah itu? Pertanyaan ketiga, berkurangnya nyawa setiap hari sampai habis ke manakah perginya? Keempat, bagaimanakah rupa Hyang Maha Agung itu? ”Tertawalah Siti Jenar, “Itu pertanyaan anak kecil!” kemudian berkatalah pada salah satu siswanya. Ki Bisana yang duduk di dekatnya, “Hai Bisana, jawablah empat pertanyaan itu, karena pertanyaan itu remeh dan bodoh. Majulah untuk menjadi wakil menjawab pertanyaan itu. Menjawablah ia dengan kata-kata yang santun. “Saya sekedar menjawab pertanyaan kalian. Jika salah saya mohon maaf karena saya orang nista lagi bodoh. Orang sudra berasal dari desa, tapi orang budak punya tatakrama. Seumur hidup saya tinggal di desa, yang tidak tahu sopan santun, lebih-lebih mengucapkan tutur bahasa yang baik. Lagipula saya gemetar, hati saya berdebar-debar, gugup takut. Takut sebagai orang dusun yang bodoh, dungu, tongong, lagi bebal. Tetapi saya sanggup menjawab pertanyaan itu atas perintah guru yang mulia. Kalau saya dimarahi karena tuna tatakrama. Pidana itu akan menjadi pelajaran bagi saya dan saya simpan dalam hati, yang akan saya ingat untuk selamanya”. Pangeran Bayat berkata, “Saya terima sebelumnya tutur kata yang kamu ucapkan. Saya mengerti akan kekurangan tatakramamu, karena kamu berasal dari desa”.
Ki Bisana menyanggupi menjawab empat pertanyaan tersebut. “Yang pertama bahwa Allah menciptakan alam semesta itu adalah kebohongan belaka. Sebab alam semesta itu barang baru, sedang Allah itu tidak membuat barang berwujud, menurut dalil layatikbiu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang berwujud. Adapun terjadinya alam semesta ini ibaratnya drimuhiyati artinya menemukan keadaan. Alam semesta ini la awali, artinya tiada berawal. Panjang sekali kalau saya menguraiakannya, bahwa alam ini merupakan barang baru, berdasarkan yang ditulis dalam Al Qur’an. Pertanyaan yang kedua, di mana rumah Gusti Allah. Ini bukan merupakan hal yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua dzat. Dzat wajibul wujud itulah tempat tinggalnya. Pertanyaan ketiga, berkurangnya nyawa siang dan malam, sampai habis ke manakah perginya nyawa itu. Nah, itu sangat mudah menjawabnya. Sebab nyawa tidak dapat berkurang, maka nyawa itu bagaikan jasad, berupa gundukan, dapat aus, rusak dimakan anai-anai. Meskipun hamba orang sudra asal desa, akan tetapi Tata Bahasa Kawi hamba mengetahui juga, baik bahasa biasa maupun yang dapat dinyanyikan. Itu semua karena hamba berguru kepada Siti Jenar di Krendhasawa, tekun mempelajari kesusastraan dan menuruti perintah guru yang bijaksana. Adapun pertanyaan keempat, paduka bertanya bagaimanakah rupa Yang Maha Suci itu. Kitab Ulumuddin sudah memberitahukan walahu lahir insan, wabatinul insani baitullahu artinya lahiriah manusia itulah rupa Gusti Allah. Batiniah manusia itulah rumah Gusti Allah. Banyak sekali yang tertulis dalam Kitab Ulumuddin, sehingga apabila hamba sampaikan kepada Paduka tentu bingung, karena Paduka tidak dapat menerima bahkan mengira bahwa hamba majenun. Oleh karena itu, pertanyaan yang paduka berikan itu sangat mudah untuk dijawab, ibarat membuatkan peluru saja yang hamba tembakkan hilang musnah dalam ruang angkasa hampa kosong melompong, demikian ajaran Siti Jenar. Guru hamba menguraikan asal usul manusia dengan jelas, mudah diterima sehingga tidak menjadi bingung. Hamba diwejang pula tentang ilmu, keadaan dan kegunaan budi dalam alam kematian di dunia ini sampai alam kehidupan akhirat, jelas dapat diuraikan dengan mata dan dibuktikan dengan nyata.

Agung Budi mengatakan...

Dalam memberikan pelajaran, guru tiada memakai tirai selubung, tiada pula memakai lambang-lambang. Semua penjelasan diberikan secara terbuka, apa adanya, dan tanpa mengharapkan apa-apa sedikitpun. Dengan demikian musnah segala tipu muslihat, kepalsuan dan segala perbuatan yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan. Hal ini berbeda apa yang diajarkan guru lainnya. Mereka mengajarkan ilmunya secara berbisik-bisik dan diam-diam, seolah-olah menjual sesuatu yang ghaib, disertai harapan untuk memperoleh sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya. Hamba sudah berulang kali berguru serta diwejangi para wali mukmin, diberitahu akan adanya Muhammad sebagai Rasulullah serta Allah sebagai Pangeran hamba. Ajaran yang menuntun serta membuat hamba menjadi bingung, sukar dipahami, merawak rambang tiada patokan yang dapat dijadikan dasar atau pegangan.
Ilmu Arab menjadi dasar ilmu Budha, tetapi karena tidak sesuai kemudian mengambil dasar dan pegangan Kanjeng Nabi. Mereka mematikan raga, merantau kemana-mana sambil menyiarkan agama. Padahal ilmu Arab itu tidak kenal bertapa, kecuali berpuasa di bulan Ramadhan, yang dilakukan dengan mencegah makan, tiada berharap apapun. Jadi jelas kalau para wali itu masih menganut Budha, buktinya mereka masih sering pergi ke tempat-tempat yang sunyi, gua-gua, hutan-hutan, gunung-gunung atau tepi samudera dengan mengheningkan cipta, sebagai laku demi tercapainya keinginan mereka agar dapat bertemu dengan Gusti Allah. Itulah buktinya mereka masih dikuasai setan Ijajil. Menurut cerita Arab, Ambiya, tiada orang yang dapat mencegah sandang dan pangan serta tiada orang yang berkuasa berjaga tidak tidur kecuali orang Budha yang menyucikan dirinya dengan jalan demikian. Nah, silakan memikirkan apa yang hamba katakan, sebagai jawaban atas empat pertanyaan Paduka. Kanjeng Pangeran Tembayat dan Syekh Domba sangat kagum, takjub dan keheranan, setelah mendengar uraian Ki Bisana, sebagai jawaban sasmita ghaib, berupa empat pertanyaan wali. Berkata Pangeran Bayat dan Domba “Sungguh luar biasa Pangeran Siti Jenar. Ia menguasai ilmu luhur, sehingga dapat memahami dan menjelaskan rahasia alam semesta secara sempurna. Tidak mengherankan kalau ia merelakan menemui ajalnya”.
Syahdan setelah kedua orang duta, Pangeran Bayat dan Syekh Domba memperoleh jawaban yang jelas tentang perilaku Siti Jenar beserta para siswanya, dan telah memperoleh jawaban atas sasmita ghaib berupa empat pertanyaan Wali Sanga. Kedua duta tersebut mohon diri untuk kembali ke Demak. Siti Jenar sepatah kata pun tiada menjawab permohonan diri mereka, sehingga mereka mundur secara diam-diam meninggalkan langgar. Ditengah-tengah perjalanan Syekh Domba bergumam, “Setelah saya mendengarkan wejangan dan pendapat Siti Jenar, saya membenarkan apa yang ia maksud dan berkeinginan untuk membantunya. Saya kira siswa Siti Jenar yang bertingkah laku tidak wajar dan mengganggu ketentraman kerajaan itu, disebabkan karena mereka bingung, putus asa demi menerima wejangan Siti Jenar. Seumpama saya berguru kepadanya, membalik menjadi pengikutnya dan setia menuruti apa yang diajarkan kepada saya, selesai berguru saya akan memberantas ilmu yang sesat”.
Pangeran Tembayat menjawab dengan kata-kata bengis, “Hei, Domba jangan berkata demikian! Kamu dulu golongan sudra, sekarang kamu menjadi orang alim dan saleh! Kamu telah mendapatkan keluhuran dan keharuman nama! Karena kamu telah menjadi santri syuhada. Mengapa kamu tiba-tiba membalik dan mau mengikuti Siti Jenar. Bukankah ilmunya tidak wajar, tidak umum? Kalau kamu ingin berguru, di Demak kurang apa? Segala macam ilimu tidak sukar diperoleh di sana, berkat keunggulan Wali Sanga. Sudah, marilah kita teruskan perjalanan kita! Sebagai utusan, kita harus melaporkan hasil usaha kita”.

Agung Budi mengatakan...

Tatkala utusan kerajaan itu datang, Syekh Siti Jenar sedang duduk di masjid. Mengajar siswanya yang baru menuntut ilmu. Perempuan dan laki-laki berjubel memenuhi ruangan masjid. Diantara mereka ada yang datang dari berbagai daerah. Syekh Sit Jenar sedang mengajarkan kejadian bumi dan angkasa, berdasarkan kitab tafsir Kaelani. Maka setibanya di serambi masjid, bersabdalah Sunan Bonang dengan tutur kata sopan lagi santun sesuai adab dan tuntunan syariat agama. “Assalamu alaikum”. Akan tetapi Syekh Siti Jenar tidak menghiraukan salam takzim itu. Ia enak-enak saja terus mengajar dikelilingi empat sahabatnya yang paling pandai. Para wali yang bertamu mengulang kembali dengan suara yang lebih keras.
Tapi Pangeran Syekh Siti Jenar diam saja. Maka Sunan Bonang masuk dan membuka lebar-lebar pintu masjid. Syekh Siti Jenar tetap tidak memperhatikan kehadiran Sunan Bonang beserta wali lain. Ia tetap enak mengajar para siswanya. Sunan Bonang lantas melemparkan surat perintah kerajaan ke pangkuan Syekh Siti Jenar. Akan tetapi Pangeran Syekh Siti Jenar tetap pura-pura tidak tahu. Karena itu, surat itu secara tergopoh-gopoh dipungut oleh Sunan Kalijaga. Lalu dibacakan keras-keras dan teliti dari awal sampai akhir. Syekh Siti Jenar tidak mendengarkan isi perintah itu. Maka sambil memegang lengan Syekh Siti Jenar, Sunan Bonang berkata, ”Hai Siti Jenar yang sedang dalam alam kematian. Berhentilah sejenak, jangan teruskan mengajar siswa-siswamu”. Syekh Siti Jenar kemudian terdiam mendengarkan Kanjeng Sunan Bonang bertutur, “Nah mayat, kedatanganku bersama kawan-kawan ini, karena diutus oleh pengadilan kerajaan Bintoro. Untuk memanggil kamu supaya datang ke Demak. Panggilan ini dituangkan dalam bentuk surat kuasa yang memberi wewenang kepada kami untuk menyelesaikan persoalan yang mungkin timbul sampai tuntas hari ini. Jika kamu menolak untuk datang ke Demak, kamu dijatuhi pidana, sebaliknya jika kamu bersedia datang ke Demak dan beradu pendapat tentang ilmu serta dapat bermufakat dengan Wali Sanga, kamu akan selamat”.
Setelah Syekh Siti Jenar mendengar apa yang disampaikan Sunan Bonang, ia berkata, “Bonang, kamu mengundang saya datang ke Demak? Saya malas untuk datang, sebab saya merasa tidak dibawahi oleh siapapun, kecuali oleh hati saya. Perintah hati itulah yang saya patuhi perintahnya. Bukankah kita semua mayat? Mengapa seseorang memerintah orang lain? Manusia itu sama, satu dengan yang lain, sama-sama tidak mengetahui siapa Gusti Allah itu. Yang disembah itu hanya namaNya. Meskipun demikian, orang itu merasa sombong dan sok berkuasa memerintah sesama bangkai.

Agung Budi mengatakan...

Jika kamu mau mengadu ilmu, khusus mengenai rasa ilmu, mari kita lakukan di sini saja. Asal kita berpegangan mufakat dalam kitab Balal Mubarak. Sekalipun yang menggubah isi kitab itu orang mati juga, akan tetapi yang menggunakan pun sesama orang mati. Demi mendengar uraian Syekh Siti Jenar, Pangeran Modang bertanya, “Wahai Kanda Siti Jenar, apa yang menjadi dasar untuk menyebut bahwa dunia ini alam kematian, sedangkan alam akherat besok sebagai alam kehidupan? Coba terangkan kepada saya sejelas-jelasnya, supaya saya dapat mengetahui dan memahami benar-benar”. Syekh Siti Jenar menjawab, “Hai Modang, dengarkan baik-baik apa yang saya katakan. Tanda kehidupan itu lafalnya Kayun daim lamutu abadan. Artinya, hidup itu tidak mempan kematian, abadi untuk selama-lamanya. Adapun sekarang disebut alam kematian, penjelasannya terdapat dalam kitab Talmisan. Nah, dengarkan lafalnya, Wal mayiti alam’ulkubra wajidu ngakalaba. Artinya, mayatnya dalam kubur menemukan tubuhnya. Itulah sebabnya dunia yang saya tempati sekarang ini saya namai alam kubur. Di dunia saya menemukan tubuh yang bersifat jasad, sesuai dalil yang lafalnya, al’alamu kulumujudin, artinya dalam tiap-tiap alam, manusia menemukan tubuh bangkai. Akan tetapi bila saya sudah hidup, tentu saya tidak akan menemukan tubuh lagi. Seumpama saya memperoleh tubuh, sekarangpun sudah tampak. Demikian penjelasan saya khusus untuk Modang. Jalan saya tidak akan tersesat bila saya besok hidup, tidak merawak rambang kalau saya katakan sekarang ini saya mati. Hidup saya di dunia ini menemukan ujud jisim, tulang, sumsum, otot, serta daging. Tersesat saya dalam dunia alam kematian. Di sini saya berjumpa dengan penyesatan agung, goda rencana, iblis, setan, dan neraka yang banyak jumlahnya. Di dunia inipun jisim terbelenggu rantai dan air panas. Saya sungguh menyesal dalam keadaan mati di dunia ini, menggunakan pancaindera yang bersifat baru, perut dan isi perut selalu minta diisi. Haus dan lapar sudah saya derita, sakit dan sedih sudah saya alami, darah dan daging turut menumpang, padahal semua itu akhirnya menjadi debu. Setiap hari saya mencari makan, yang besok bila saya hidup, akan saya tinggalkan karena tidak dapat saya bawa. Banyak betul goda rencana di alam kematian ini. Anak, istri, bapak, ibu dan sanak saudara, semuanya menjadi godaan yang besar. Lain halnya orang yang hidup tanpa raga, hanya diri pribadilah yang ada. Tidak kenal haus, lapar, dan lesu. Yang ada hanya selamat dan bahagia selalu”.

Poskan Komentar

Artikel Terkait