Minggu, 14 November 2010

Cerdas dengan Otak Tengah?

otak 150x150 Cerdas dengan Otak Tengah?’Kuning!’’.... Seorang anak berseru tanpa ragu-ragu. Tebakannya tak meleset, kertas yang ada di hadapannya memang berwarna kuning. Apakah menebak warna dengan benar masih begitu istimewa bagi anak berusia 8 tahun? Bukankah hal serupa juga mudah dilakukan teman-teman sebayanya?
Tidak jika ia menebak dengan mata tertutup. Ya, bukan sulap bukan sihir, dengan kondisi mata tertutup, seorang anak dapat menebak warna dengan benar, bahkan berkemungkinan mengetahui isi dompet tanpa membukanya sama sekali.Aktivasi otak tengah. Itulah yang sekarang menjadi perbincangan ramai. Di Indonesia, fenomena ini memang baru dimulai tahun 2009 lalu, dan geliatnya makin terasa hingga kini. Bahkan di Semarang, lembaga-lembaga pelatihan otak tengah tak pernah sepi peminat meski para orang tua yang ingin anaknya diaktivasi harus mengeluarkan kocek yang tak sedikit.
‘’Aktivasi otak tengah ‘kan banyak manfaatnya. Lagi pula, saya ingin anak saya berhasil dalam kehidupannya. Jadi, keluar uang banyak tak masalah.’’ Itulah pengakuan Rizki (34), pemilik dealer motor di kawasan Cibitung, Jakarta.
Rizki melihat banyak manfaat setelah anaknya mengikuti pelatihan aktivasi otak tengah. Selaih lebih percaya diri saat bergaul dengan teman-temannya, sang anak juga cenderung mengalami peningkatan dalam kemampuan akademis.
‘’Walaupun tidak sampai bisa melihat dengan mata tertutup, tapi anak saya sekarang lebih kritis bertanya, mudah memahami pelajaran, dan percaya diri.’’
Lain lagi pengalaman Antika (29). Putra sulungnya, Rafa (6), bisa membedakan warna dan menyebut benda-benda dengan kondisi mata tertutup. ‘’Rasanya seperti sulap. Tapi ini ‘kan ilmiah. Anak saya bisa melihat dan berjalan tanpa menabrak dengan mata tertutup. Padahal pelatihannya hanya 2 hari.’’
Apa yang dialami buah hati Rizki atau Antika, memang terkesan mistis dan sukar dinalar menggunakan logika. Namun, menurut pengaktivasi otak tengah Andy Maipa Dewandaru (25), hal itu memang bisa saja terjadi dan sangat ilmiah.
‘’Sebenarnya aktivasi otak tengah bukan hal baru. Jepang bahkan sudah memanfaatkannya sejak 40 tahun lalu. Orang-orang zaman dulu juga relatif mudah teraktivasi secara alamiah. Tetapi, untuk kondisi seperti sekarang, orang cenderung sulit teraktivasi secara alami karena banyaknya kelimpahan cahaya dan suara.’’
Menurut salah satu pemelopor masuknya pelatihan aktivasi otak tengah di Semarang ini, otak tengah merupakan penerima dan pemancar sensorik yang juga memiliki fungsi kendali motorik dan fungsi endokrin. Jika sebelumnya hanya dikenal istilah otak kanan dan otak kiri, maka otak tengah diangap sebagai jembatan yang menghubungkan otak kiri-kanan.
‘’Jembatan itu akan membuat seseorang bisa memaksimalkan fungsi otak kiri dan kanan secara seimbang. Jadi, tidak mengherankan, akan muncul anak-anak yang jenius karena bisa memaksimalkan logika dan imajinasi sekaligus.’’ Tutur pemegang sertifikat hipnoterapi ini mantap.
Lalu, kenapa bisa melihat dengan mata tertutup? Ternyata, hal ini berkaitan erat dengan fungsi otak tengah sebagai penerima dan pemancar sensor indera. Setelah diaktivasi, anak-anak cenderung memiliki kepekaan indera. ‘’Jadi, dengan mata tertutup, anak-anak dapat mengenali warna dari penciuman, pendengaran, atau perabaan. Bahkan dalam beberapa kasus, ternyata ada anak yang memiliki kepekaan indera perasa (lidah) yang kuat.’’
Proses aktivasi tak memakan waktu lama. Hanya beberapa menit mendengarkan audio dari alat bernama brain wave generator, yang memancarkan bebunyian gelombang alfa. Setelah itu, trainer akan melanjutkannya dengan sesi NLP (neuro linguistic program).
‘’Karena anak-anak perlu diberi motivasi. Tidak cuma diaktivasi. Jadi, ibaratnya kita menyediakan jalan tol dan mobil balap. Bagaimana supaya anak mau melaju, itu tergantung pada motivasi dan kemampuan masing-masing anak.’’ Tutur Andi Maipa.
Setelah diaktivasi, manfaat yang bisa dinikmati antara lain; konsentrasi dan kreativitas meningkat, lebih cerdas, lebih percaya diri, mudah memunculkan bakat, emosi relatif stabil, membentuk karakter positif, dan lebih berprestasi. Sayangnya, otak tengah hanya bisa diaktivasi pada anak-anak usia 5 sampai 15 tahun.
Seandainya anak-anak Indonesia bisa mendapatkan akses aktivasi otak tengah dengan lebih mudah dan murah, barangkali impian tentang negara maju dan disegani dunia bukan lagi angan-angan yang mengada-ada. (Anggrahini KD)
*** sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Terkait